Catatan Pendek Menziarahi Peradaban di Trowulan, Oleh Sularso
Trowulan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Kecamatan ini terletak di bagian barat Kabupaten Mojokerto, berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang. Trowulan terletak di jalan propinsi yang menghubungkan Surabaya-Solo. Di kecamatan ini terdapat puluhan situs berupa bangunan, temuan arca, gerabah, dan pemakaman peninggalan Kerajaan Majapahit.
Tulisan ini merupakan catatan pendek yang saya tulis ketika saya melakukan perjalanan menembus masa lampau melalui pintu “artefak” di Trowulan. Selain hendak menuntaskan kewajiban kuliah lapangan Sejarah Kebudayaan Indonesia bersama rekan-rekan mahasiswa S2 dan S3 Pasca Sarjana ISI Surakarta, saya secara khusus hendak melakukan ‘ziarah peradaban’ di masa kejayaan Majapahit.
Sebelum membahas ke masalah inti, secara khusus saya mengungkapkan kegembiraan karena kamar di mana saya tidur adalah kamar yang pernah digunakan insinyur Belanda yang bernama Maclain Pont dan kamar tersebut oleh pegawai di sana terkenal wingit, namun bagi saya bukan itu yang menjadi persoalan tetapi yang paling penting bagi saya adalah keberadaan saya yang tepat di dalam ruang yang digunakan untuk bekerja dan merenungkan gagasan Maclain Pont ketika hendak merekonstruksi tata Kota Majapahit. Di dalam kamar tersebut saya seolah berada pada satu jaman sejarah, dan ini betul-betul berkesan bagi saya.
Memang saya sengaja tidak memberikan informasi ke rekan-rekan saya satu kamar, meskipun ada kejadian aneh yang pernah mereka alami, namun saya tetap tidak memberi tahu bahwa kamar yang saya gunakan bersama teman-teman adalah kamar yang memiliki kadar mistis yang dinilai cukup besar menurut pegawai di sana. Sayang saya tidak menemukan anggapan mistis yang dilontarkan pegawai di sana.
Lantas siapa Maclain Pont? Maclain Pont adalah seorang arsitek dan arkeolog. Pada dasawarsa ketiga abad ke-20 Maclaine Pont tertarik dengan arsitektur percandian di Jawa. Sumbangannya yang terbesar dalam arkeologi Indonesia adalah pendeskripsiannya mengenai konsep tata kota ibukota Majapahit di Trowulan. Sejak 1921 ia aktif dalam penggalian (ekskavasi) di tempat itu dan membuat suatu draft mengenai kemungkinan Trowulan pantas menjadi ibukota kerajaan Majapahit.
Pada tahun 1925 ia mendirikan Museum dan Pusat Penelitian Arkeologi Trowulan. Informasi ini menjadi bekal saya untuk terjun ke lapangan namun sebelum saya menuju lokasi artefak terdapat sambutan dan pengarahan yang diberikan Aris Souyani selaku Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, setelah selesai sesi itu baru saya bersama rekan-rekan bergegas melanjutkan perjalanan menuju lokasi di mana artefak peninggalan kerajaan Majapahit berada. Pendalaman dan pengaisan sejarah masa lampau kerajaan Majapahit betul-betul saya alami. Paling tidak bisa menghilangkan status ahistoris pada diri saya sendiri.
Berpijak pada tulisan yang dibuat oleh Mpu Prapanca dalam kitab Kakawin Nagarakretagama dan dalam sebuah sumber Cina dari abad ke-15 diduga kuat pusat kerajaan Majapahit berada di Trowulan. Pada tulisan tersebut tercatat pula bahwa pusat Ibu Kota Majapahit tersebut telah dihancurkan pada tahun 1478 yakni ketika Girindrawardhana berhasil mengalahkan Kertabumi dan sejak saat itu ibukota Majapahit berpindah ke Daha.
Ketika saya melakukan perjalanan menuju lokasi di mana artefak berada, dalam perjalanan, bus yang membawa saya bersama rekan-rekan melewati kolam yang begitu luas di sisi kiri jalan, awalnya saya tidak tahu apa nama kolam tersebut, saya baru mengetahui ketika saya membaca papan tulis yang menunjukkan identitas nama kolam tersebut. Pada papan tersebut tertuliskan Tambak Segaran. Informasi yang saya peroleh terkait dengan nama Tambak atau Kolam Segaran tersebut berasal dari bahasa Jawa yakni berasal dari kata ‘segara’ yang berarti ‘laut’, mungkin masyarakat setempat mengibaratkan kolam besar ini sebagai miniatur laut.
Kolam besar tersebut berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter persegi, dinding atau tembok serta tanggul yang mengelilingi kolam tersebut berbahan bata merah. Informasi yang saya peroleh saat ditemukan oleh Maclain Pont pada tahun 1926, struktur tanggul dan tembok bata merah tersebut tertimbun tanah dan lumpur. Setelah ditemukan tempat tersebut tidak langsung dipugar namun baru beberapa tahun kemudian pemugaran dilakukan.
Saat ini kolam Segaran telah difungsikan oleh masyarakat setempat sebagai tempat rekreasi dan kolam pemancingan. Ketika saya menanyakan fungsi asli kolam ini jawabannya masih bersifat dugaan. Hal ini disampaikan oleh Wicaksana salah seorang Arkeolog yang bertugas di Museum Trowulan.
Wicak menyampaikan kolam atau Tambak Segaran ini memiliki beberapa fungsi, antar lain sebagai kolam penampungan untuk memenuhi kebutuhan air bersih penduduk kota Majapahit yang padat, terutama pada saat musim kemarau, kemudian ada dugaan populer lainnya bahwa kolam ini digunakan sebagai tempat mandi dan kolam latihan renang prajurit Majapahit, bahkan Wicak pun menyampaikan dugaan lain pula kalau kolam tersebut digunakan untuk menjamu tamu kerajaan atau duta kerajaan dan konon ketika selesai perjamuan gelas, piring, sendok yang terbuat dari bahan emas dibuang begitu saja ke dalam kolam. Menurut Wicak, cara ini konon digunakan sebagai salah satu bentuk pamer kekayaan yang dilakukan oleh pihak Kerajaan Majapahit.
Tidak jauh dari kolam Tambak Segaran, terdapat museum yang letaknya berada pada sisi kanan jalan dan kami pun masuk karena museum ini adalah tujuan kami yang pertama. Museum Trowulan ini mulai dibuka pada 1926, tujuannya adalah untuk menyimpan dan memamerkan benda-benda purbakala hasil penelitian. Pendirian museum ini digagas oleh sebuah perkumpulan yang didirikan tahun 1924 oleh Kanjeng Adipati Aria Kramadjaja Adinegara, Bupati Mojokerto saat itu dengan bersama Maclaine Pont.
Selain berisi artefak peninggalan masa Kerajaan Majapahit, di dalam museum Trowulan pun menyimpan arca-arca dan benda-benda peninggalan lainnya seperti jaman Kahuripan, Kediri dan juga Singasari. Selain itu di dalam museum tersebut turut pula menyimpan koleksi benda kuno milik Mclain Pont dan letaknya berada di bagian sebelah kiri dari pintu masuk, koleksinya berupa kursi ukir motif dedaunan dan tumpal antik bergaya Jawa Eropa, serta terdapat lonceng pintu, patung orang tua, dan lampu duduk.
Setelah melewati koleksi benda kuno milik Mclain Pont kami masuk ke dalam dan di sebelah atau sisi kiri kami berjalan kami dikenalkan dengan Patung Hariti tanpa kepala, dan satu kepala terpisah, yang biasanya digambarkan dengan buah dada besar dan dikelilingi anak-anak. Informasi yang saya peroleh dari Wicak, Hariti adalah mahluk mitologi untuk melindungi anak-anak, tugasnya memberi kemudahan saat melahirkan, serta menjaga dan merawat anak-anak, selain itu turut pula menjaga keharmonisan suami isteri, cinta, dan kesejahteraan serta keamanan keluarga. Wicak pun mengakhiri penjelasan Hariti dengan mengatakan Haritipun pun pada masa itu juga dipuja wanita tanpa anak agar bisa hamil.
Di dalam museum Trowulan masih banyak sekali hal-hal menarik yang tersimpan dan perlu disebarkan, namun tulisan ini hanya ‘cuilan’ pengamatan saya yang nantinya akan saya sambung pada lembar yang lain. Demikian mudah-mudahan informasi sederhana ini bisa bermanfaat, khususnya bagi saya pribadi.. Terimakasih.
